REPOSITORI BADAN LITBANG KESEHATAN RI

Pengaruh Vitamin E terhadap Efektivitas Artemisin sebagai Obat Malaria

Miawati, Tita (2001) Pengaruh Vitamin E terhadap Efektivitas Artemisin sebagai Obat Malaria. Warta Litbang Kesehatan.

Full text not available from this repository.

Abstract

Penyakit malaria masih menjadi masalah di berbagai negara berkembang dan negara maju yang beriklim tropik termasuk Indonesia, karena plasmodium beserta vektornya anopheles sangat cocok hidup di daerah beriklim tropis. Pada saat ini obat yang digunakan untuk penyakit malaria adalah klorokuin (kina). Namun demikian pemakaian klorokuin sebagai antimalaria ternyata telah menimbulkan resistensi dan mempunyai efek samping dari yang ringan sampai yang cukup serius. Penelitian dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan Artemisin sebagai obat alternatif untuk malaria yang cukup efektif dan tidak menunjukkan efek samping. Artemisin bekerja dengan melepaskan radikal bebas yang berikatan dengan membran sel plasmodium sehingga menjadi rusak. Dengan mekanisme demikian maka adanya antioksidan seperti vitamin E dapat menghambat aktivitas Artemisin. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh status vitamin E terhadap efektivitas artemisin sebagai anti malaria maka dilakukan penelitian terhadap mencit sebagai model, penelitian dilakukan di Puslitbang Gizi. Enam puluh ekor mencit albino jantan galur Swiss yang berumur 8 minggu dengan berat berkisar 25 gram sampai 30 gram yang diperoleh dari Laboratorium Puslit Penyakit Menular di bagi menjadi lima kelompok yaitu; 1) Kelompok kontrol tanpa pemberian vitamin E, 2) Kelompok dengan pemberian vitamin E 0,35 mg/ekor/hari secara oral selama 1 bulan, 3) Kelompok dengan pemberian vitamin E 0,7 mg/ekor/hari secara oral selama 1 bulan, 4) Kelompok dengan pemberian vitamin E 1,05 mg/ekor/hari secara oral selama 1 bulan dan 5) Kelompok tanpa pemberian vitamin E pada 1 bulan sebelum infeksi, pemberian vitamin E 1,05 mg/ekor/hari dilakukan pada saat pengobatan dengan Artemisin. Infeksi parasit malaria Plasmodium berghei galur Anka (PbA) yang diperoleh dari Laboratorium Hewan Pusat Penelitian Penyakit Menular dilakukan pada hari ke-61 penelitian. Sedangkan pemberian terapi artemisinin dilakukan pada hari ke-70 dan hari ke-71. Evaluasi pemeriksaan plasmodium dilakukan pada hari ke-7, 8 dan 9 setelah infeksi, atau hari ke 0, 1 dan 2 setelah pemberian obat Artemisin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi status vitamin E hewan coba, semakin tahan terhadap Plasmodium berghei. Sedangkan efektifitas artemisinin semakin menurun dengan status vitamin E yang semakin tinggi. Pemberian vitamin E bersamaan dengan pengobatan Artemisin ternyata menghambat daya kerja obat tersebut.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: vitamin E; obat malaria; artemisin; malaria; Warta Litbang Kesehatan; GIZI-BPPK
Subjects: W Medicine and related subjects (NLM Classification) > WC Communicable Diseases > WC 680-950 Tropical and Parasitic Diseases
Divisions: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Depositing User: Administrator Eprints
Date Deposited: 02 Oct 2017 05:29
Last Modified: 24 Nov 2017 09:41
URI: http://repository.bkpk.kemkes.go.id/id/eprint/958

Actions (login required)

View Item View Item